ADS

Ide Poros Ketiga Dapat Hadirkan Cak Imin-Ahy Di Pilpres 2019

Jakarta - Wacana poros ketiga untuk Pilpres 2019 terus berkembang. Bahkan potensi pasangan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai terbuka lebar.

Isu mengenai Poros Ketiga ini muncul dari PKS yang menilai akan lebih baik bila Pilpres 2019 diikuti lebih dari dua pasangan. PKS pun mendorong supaya Demokrat-PKB-PAN membentuk poros baru.

Untuk membentuk poros baru, PKB-Demokrat-PAN memang memenuhi syarat ambang batas capres atau presidential threshold. Sesuai UU Pemilu, partai atau koalisi partai dapat mengajukan pasangan calon bila mempunyai 20 persen dingklik di dewan perwakilan rakyat atau 25% bunyi sah berdasarkan hasil Pemilu 2014.

Di DPR, PKB mempunyai 47 dingklik (8,4%), Demokrat 61 dingklik (10,9%), dan PAN 48 dingklik (8,6%). Totalnya ialah 27,9% dingklik di dewan perwakilan rakyat yang berarti memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon di Pilpres 2019.

"Poros ketiga itu memang paling mungkin Demokrat-PKB-PAN," ungkap Direktur Eksekutif Lembaga Median, Rico Marbun dalam perbincangan, Sabtu (3/3/2018).

Ada sejumlah hal yang dinilai dapat menjadi alasan mengapa ketiga partai ini sangat memungkinkan untuk membentuk koalisi. Pertama soal PKB yang niatnya memajukan sang ketum, Muhaimin Iskandar, sebagai cawapres bagi Joko Widodo (Jokowi) diremehkan oleh partai-partai pendukung pemerintah lainnya.

"Harusnya dihentikan merendahkan manuver politik Muhaimin. Kalau Demokrat jelas, bahkan di DKI berhasil buat alur sendiri. PAN kita ketahui partai pendukung pemerintah tapi rasa oposan. Sehingga masuk akal jikalau ketiganya bergabung," urai Rico.

Di Pemilu 2014, perolehan bunyi Demokrat mengalahkan PKB dan PAN. Namun belakangan elektabilitas Demokrat menurun sementara PKB mengalami kenaikan sehingga berada di atasnya.

Namun dalam memilih capres/cawapres, kata Rico, tingkatan partai saja tidak cukup. Perlu juga dilihat tokoh-tokoh yang dimiliki oleh masing-masing partai itu sendiri.

"Bisa dilihat PKS di Pilgub DKI. PKS suaranya di DKI tapi nggak ada kadernya yang maju. Makara kutub tarik-menarik, pertama tiket dan kedua ialah kekuatan orang untuk menang," sebutnya.

Soal kemungkinan terbentuknya Poros Ketiga di Pilpres 2019, ketika ini yang dinilai penting ialah membangun chemistry antara Demokrat-PKB-PAN. Perlu dilihat bagaimana posisi senioritas dengan elektabilitas supaya tidak ada konflik dalam penentuan capres/cawapres.

"Mungkin ada problem senioritas. Misalnya tokoh yang diajukan Demokrat kan paling anabawang dibanding Muhaimin, dan Zulkifli Hasan. Tapi yang harus dilihat angka elektabilitas,
bukan mustahil Muhaimin dapat jadi nomor satu, secara elektabilitas," papar Rico.

"Makanya Cak Imin kampanye jangan sebagai cawapres, kampanye aja sebagai capres, begitu gabung dengan Demokrat dan PAN jadi sudah sebagai capres," imbuhnya.

Seperti diketahui, tokoh yang sekarang tengah 'ditawarkan' oleh Demokrat ialah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra sulung dari sang ketum, Susilo Bambang Yudhoyono. Dari sisi senioritas, Ketum PAN Zulkifli Hasan memang lebih unggul dari Cak Imin dan AHY.

Cak Imin-AHY pun dinilai berpeluang menjadi pasangan untuk Poros Ketiga. Meski begitu, berdasarkan Rico, Demokrat juga dapat saja mengajukan sebagai capres tapi perlu mencari tokoh yang lebih senior.

"Sangat mungkin ada muncul (pasangan) Cak Imin-AHY. Atau Demokrat dapat cari figur lain selain AHY, yang lebih senior, atau tokoh yang mempunyai kedekatan dengan Demokrat," ujarnya.

Partai berlambang Mercy itu disebut dapat mencari tokoh yang mempunyai latar belakang ekonomi. Hal tersebut lantaran, berdasarkan survei, permasalahan ekonomi masih menjadi momok di tengah-tengah masyarakat.

"Tokoh yang diperlukan rakyat, yang dapat memenuhi impian atas kegonjang-ganjingan ekonomi. Makara dapat ya contohnya tokoh yang mempunyai kedekatan dengan Demokrat berpasangan dengan Cak Imin," kata Rico.

"Sambil AHY dipersiapkan dalam kabinet, tidak harus jadi capres/cawapres. Kalau menang, jadi ajang training atau training. Bisa jadi menteri dulu, 5 tahun cukup lah untuk lalu maju capres," tambah dia.

Rico lantas menyebut sejumlah nama yang dapat diajukan oleh Demokrat. Nama-nama yang disebutnya merupakan tokoh yang hebat dalam bidang ekonomi, ibarat mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli.

"Ada figur Rizal Ramli, setahu aku kedekatan dengan SBY bagus, paham ekonomi, mazhab ekonomi yang anti-neolib. Atau mungkin juga hebat ekonomi lainnya juga dapat ibarat pak Chairul Tanjung," ujar Rico.

Seperti diketahui, Poros ketiga muncul untuk melengkapi poros Gerindra-PKS yang hendak mengusung Prabowo Subianto dan poros pemerintah dengan Capres Jokowi. PDIP pun bahkan menyebut Cak Imin ada keinginan maju sendiri sebagai capres bila tidak menjadi cawapres Jokowi.

"Di socmed pagi ini aku lihat ada PKB menyatakan jikalau tidak berikan (posisi) cawapres, PKB akan maju usung capresnya sendiri. Makara poros ketiga ini sangat mungkin dimotori oleh PAN, Demokrat, dan PKB," beber Wakil Sekjen PDIP Eriko Sotarduga. 

Subscribe to receive free email updates:

ADS