![]() |
| Dekan FKIP Untirta Aceng Hasani, Wakil Rektor Bidang Akademik Fatah Sulaeman, dan Rektor Untirta Sholeh Hidayat bersama perwakilan mahasiswa yang PPLK di Thailand. |
SERANG – Universitas Sultan Ageng Tritayasa (Untirta) mengutus sepuluh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ke Thailand untuk menjalani kegiatan pengenalan lapangan kependidikan (PPLK) sekaligus melaksanakan penelitian untuk skripsi.
Sepuluh mahasiswa ialah Rima Putri Sirait, Dinda Ayu Suhartinah, Dzikri Arie Ramadhan, Monica Hayati, Ghea Hafiizha Nazmi, Siti Anisah Aprianingsih, Yuliyanti Maulida, Desy Aulia Mariska, Bella Arista, dan Fujy Damayanti. Di Negara Gajah Putih itu, mahasiswa berkesempatan mengajar semenjak 7 November 2017 kemudian hingga 15 Maret 2018.
Mereka ditempatkan di tujuh sekolah berbeda, dengan jenjang pendidikan yang berbeda pula, di Provinsi Krabi dan Provinsi Nakhon Si Tammant. Ketujuh sekolah tersebut ialah Santitham Mulniti Foundation School, Annuban Muslim Krabi School, Sabtivittaya School, Eakkapapsasanawich Islamic School, Anuban Jitjongrak School, Panteeptham Mulniti School Krabi, dan Lanta Ratprachautit 125 School.
Dekan FKIP Untirta Aceng Hasani menjelaskan, kegiatan PPLK di luar negeri merupakan tindak lanjut dari kolaborasi antara Untirta dengan Association of Private Islamic School, sebuah forum sekolah muslim swasta di Thailand.
Menurut Aceng, selain untuk meningkatkan kualitas dan wawasan mahasiswa, kegiatan tersebut merupakan upaya Untirta untuk Go ASEAN. “Ini menuju Akreditasi ASEAN. Setelah legalisasi secara nasional sudah tertinggi, ialah A, kita berkeinginan untuk Akreditasi ASEAN. Syukur-syukur bisa hingga internasional,” papar Aceng kepada awak media di kampus Untirta, Pakupatan, Kota Serang, sehabis mendampingi Rektor Untirta Sholeh Hidayat menyerahkan penghargaan kepada 10 mahasiswa tersebut, Senin (19/3).
Menurut Aceng, sebagai fakultas yang melahirkan tenaga kependidikan, FKIP Untirta terus berupaya melaksanakan penemuan biar bisa lahir tenaga kependidikan yang profesional dan berkualitas.
Di Thailand, mahasiswa mengaku mendapat banyak pelajaran berharga yang bisa menjadi bekal bagi mereka untuk sepenuhnya terjun di dunia pendidikan.
“Mereka mengetahui bagaimana perbandingan pendidikan antara di negara kita dan di sana (Thailand). Ternyata, pendidikan kita di mata orang Thailand sangat bagus, metode yang berdasarkan kita biasa, di sana beeh (angkat dua jempol tangan),” ujar Aceng.
Sepuluh mahasiswa tersebut, lanjut Aceng, merupakan rombongan pertama yang dikirim ke luar negeri untuk menjalankan kegiatan PPLK sekaligus penelitian. Selain Thailand, negara ASEAN lain yang menjadi tujuan lokasi PPLK dan penelitian ibarat Singapore dan Malaysia.
“Di Thailand pun nanti tidak hanya di dua provinsi itu saja, tapi kita lihat dulu kondisi daerahnya, kondusif atau tidak,” paparnya.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dodi Firmansyah menambahkan, tindak lanjut dari kegiatan itu, tahun ini akan ada sejumlah warga negara Thailand yang akan mendapat beasiswa kuliah di Untirta.
“Ini juga menjadi bab dari syarat Akreditasi ASEAN. Harus ada mahasiswa dari negara ASEAN yang kuliah di Untirta,” tuturnya.
Target Akreditasi ASEAN sendiri, dijelaskan Dodi, tidak dalam waktu bersahabat alasannya perlu persiapan panjang untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Salah satu mahasiswa yang berkesempatan ke Thailand, Rima Putri Sirait, menuturkan, banyak pengalaman berharga yang didapatkan bersama sahabat lainnya selama empat bulan di sana.
“Kami dipisah, ada yang sendiri ada yang berdua, ada yang ngajar TK, SD, SMP, ada juga SMA,” tuturnya.
Selama di Thailand, Rima mengaku banyak mencar ilmu soal metode mengajar. Diakui mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tersebut, bahasa menjadi hambatan utama dirinya menjalani kegiatan PPLK.
“Memang ada pelajaran bahasa Melayu di sana, tapi alasannya semenjak kecil memakai bahasa Thailand, jadi mereka tidak bisa Melayu,” katanya.
Kondisi itu diperparah dengan kemampuan bahasa Inggris di lokasi PPLK yang belum baik sehingga para mahasiswa yang PPLK harus memakai bahasa tubuh.
“Selama dua bulan kita gunakan bahasa Inggris yang biasa saja, ditambah dengan bahasa tubuh. Kita pun terus mencar ilmu bahasa Thailand memakai aplikasi smartphone yang ada,” katanya.
Saat ini, dirinya bersama kesembilan temannya sudah bisa berbahasa Thailand. Bahkan bersama tiga temannya, Rima mengaku mendapat anjuran mengajar di sana.
Terkait dua provinsi yang menjadi lokasi PPLK merupakan dua tempat yang banyak ditinggali muslim. Namun tetap ada sejumlah siswa yang bersekolah dari kalangan non-muslim.
