![]() |
| Terowongan bawah tanah di Kota Serang. (Dok. BPCB) |
Jaringan berupa terowongan mengular di bawah tanah sentra Kota Serang. Banyak dongeng dan teka-teki wacana keberadaan terowongan yang disinyalir dibangun kolonial Belanda tersebut.
“Saya pernah masuk dulu sama teman-teman, jikalau di dalam sini kayak penjara, ada besi, ada buat orang istirahat dulu zaman penjajah,” ujar Roni, warga Kota Baru, Kota Serang.
Keberadaan terowongan berbahan dasar bata merah tersebut sempat menciptakan heboh warga Kota Serang dan sekitarnya.
Bangunan yang berbentuk lorong itu ditemukan ketika pemerintah Kota Serang tengah memperbaiki gorong-gorong di Jalan Maulana Hasanudin pada 25 November 2016 lalu. Perbaikan gorong-gorong di sekitar Pasar Lama Kota Serang tersebut dilakukan alasannya yakni adanya penyumbatan sehingga kerap terjadi banjir ketika hujan turun.
![]() | |||
| Terowongan berupa gorong-gorong di sekitar Pasar Lama Serang. |
Juliadi, Ketua Unit Penyelamatan dan Pengamanan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten tak menampik wacana banyaknya spekulasi wacana terowongan bawah tanah itu.
“Banyaklah dongeng wacana gorong-gorong tersebut. Tempat persembunyian lah, tempat inilah, itulah. Tempat tentara, itu sanggup saja. Tapi fungsi utamanya sebagai drainase. Teknologi pengendalian air di Serang pada masa kolonial Belanda. Tingginya sekitar 2 meter. Saya pernah masuk dan menyusuri terowong itu hingga di bawah pasar,” terang Juliadi, di kantornya, Rabu (17/1/2018).
Juliadi memang belum sanggup memastikan kapan waktu niscaya terowongan tersebut dibangun. “Tapi jikalau lihat teknologinya, kita lihat itu (dibangun-red) pada masa keresidenan,” ujarnya.
Hal lain yang menarik dari struktur gorong-gorong kuno tersebut juga terlihat pada lapisan dinding dalam yang dilapisi memakai plasteran dan penggunaan aspal. Aspal yang dipakai untuk melapisi dinding bab dalam tersebut berfungsi sebagai lapisan kedap air yang sanggup mempertahankan kekuatan struktur bata. Struktur bata untuk gorong-gorong tersebut dibangun di atas lapisan bedrock (berwarna bubuk keputih-putihan) sehingga mempunyai daya dukung untuk menahan beban struktur bata di atasnya.
“Ini teknologi lama. Saya pernah diminta menggali di gedung Kedubes Amerika di Jakarta, struktur pondasinya sama teknologinya,” ujar Juliadi.
Temuan struktur bata tersebut mengatakan irisan aksara ‘n’ yang disusun dengan bata rolak yang diduga merupakan gorong-gorong lama. Juliadi menyebutkan ukuran bata yang dipakai untuk menciptakan terowongan tersebut lebih kecil dibandingkan bata yang ditemukan di Istana Surosowan atau Kaibon di Banten Lama. Bentuk terowongan itu seolah-olah pintu gerbang sebelah timur Istana Surosowan.
Data yang dikumpulkan oleh tim BPCB Banten secara umum panjang gorong-gorong yang digali mempunyai panjang 28,6 m dengan kedalaman di bawah jalan 4,19 m pada bab timur dan 4,85 m untuk struktur di bab barat. Gorong-gorong dengan struktur bata tersebut mempunyai tinggi 1,30 m dengan lebar 1 m dengan ketebalan bab dinding utara 0,90 cm, dinding selatan 0,90 m, dan bab lengkung row lock dengan ketebalan 0,45 cm.
Bagian timur gorong-gorong itu ada di kampung Mangga Dua dan Calung, sedangkan pembuangan simpulan susukan ini keluar menuju Sungai Cibanten. Berdasarkan penelusuran tim BPCB Banten, gorong-gorong tersebut berafiliasi dengan susukan yang berasal dari arah tenggara di bawah Jalan Sultan Ageng Tirtayasa di tempat Royal yang kini terdapat Toko Tohaga yang sebelumnya melewati sebelah barat Masjid At Tsauroh dan di sebelah timur Bank Jabar Banten (bjb) dan mengalir di bab belakang rumah eks Bupati Serang.
Juliadi menyebutkan peta tahun 1887 mengatakan adanya susukan air yang menghubungkan Benggala-Pegantungan-Royal-Kebun Sayur-Mangga Dua- Pasar Lama hingga ke sungai Cibanten. Melihat peta tahun 1887 ini sepertinya kemungkinan drainase yang ada ketika ini sebelumnya merupakan susukan air alami atau sungai yang mengalir dari Benggala hingga Cibanten. Peta Kota Serang tahun 1915 juga mengatakan hal yang sama.
“Struktur usang itu kini sudah diganti dengan beton. Disisakan sedikit sebagai bukti,” ujarnya.
“Struktur usang itu kini sudah diganti dengan beton. Disisakan sedikit sebagai bukti,” ujarnya.
Sumber : www.bantennews.co.id

