Selamat Jalan “Aki Gunung”
Oleh. Eko Supriatno
Tenaga Ahli FPKB DPRD Provinsi Banten
Masih tercetak dalam ingatan, ketika saya, beberapa tahun silam bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al-Ihya Kaduronyok, Cisata, Pandeglang Banten. Jika selama ini kaum santri lebih dikenal dengan kepandaiannya mengaji dan ilmu agama, berbeda halnya dengan santri dari Ponpes Al-Ihya yang pintar bermain angklung dalam sebuah orkes yang berjulukan Angklung Ronyoka Symphonie.
Dalam orkes tersebut, para santriawan dan santriwati tak hanya pintar bermain angklung, namun juga pintar bermain alat musik lainnya menyerupai gitar, drum, hingga piano. Santriawan dan santriwati yang termasuk ke dalam ponpes salafi tersebut terlihat sangat besar hati bisa menawarkan warna tersendiri dalam musik nasional. Inilah uniknya pesantren, tak hanya mengajarkan ilmu agama menyerupai nahwu, sorof atau pelajaran fikih atau mencetak qori dan qoriah, namun di Pesantren Al-Ihya Kaduronyok pimpinan KH. Fuad Halimi Salim juga diajarkan bagaimana santri berguru musik dan bernyanyi.
Penulis setuju, ada sebuah pembelajaran kesenian di pesantren, ini sebetulnya untuk mengubah paradigma jika pesantren bukan hanya mengajar ngaji dan berguru fikih. Namun insan juga butuh hiburan sebab otak harus juga diisi dengan problem yang ringan dan menghibur. Makanya, di Pesantren Al-Ihya Kaduronyok ini semua santri bisa ikut berguru memainkan alat musik dan berguru bernyanyi. Mereka pun bisa ikut pentas bila ada yang mengundang, sekaligus memupuk mental para santri untuk tampil di depan publik.
Al-Ihya Kaduronyok
Pondok Pesantren Lingkungan Hidup Al-Ihya yang berada di Kampung Kaduronyok, Desa Kaduronyok, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang, Banten ini berada di atas Gunung Pulosari yang memang dikenal mempunyai hawa yang sejuk dan pemandangan hijau nan asri khas pegunungan.
Pesantren Al Ihya Kaduronyok merupakan satu satunya pesantren yang berbasis Lingkungan Hidup. Konsep ini dikembangkan mulai pada tahun 1993. Sistem pendidikan yang dikembangkan di Yayasan Lingkungan Hidup Al-Ihya memakai sistem pendidikan salaf-modern. Yaitu, sistem pendidikan yang dikembangkan dengan memadukan sistem pendidikan salaf dengan sistem pendidikan modern (formal).
Sistem pendidikan salaf yang masih kental diterapkan di pondok pesantren, dan sistem pendidikan modern yang dikembangkan di sekolah formal dengan mengacu pada kurikulum dari Departemen Agama Republik Indonesia dari tingkat Taman-kanak-kanak (TK) hingga Madrasah Aliyah (MA). Sementara sistem pendidikan modern yang dikembangkan di sekolah formal PAUD dan Sekolah Menengah kejuruan (Sekolah Menengah Kejuruan) dengan mengacu pada kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional.
Dengan perpaduan sistem pendidikan salaf-khalaf (modern) yang dikembangkan oleh Yayasan Lingkungan Hidup Al Ihya para santri dan siswa siswi diperlukan bisa menjadi generasi Islam yang berkepribadian luhur (berakhlak mulia), cerdas, kreatif, terampil dan berwawasan luas serta bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta siap menghadapi kemajuan global dunia usaha.
Mungkin ini terlalu sederhana untuk menggambarkan sosok KH. Fuad Halimi Salim atau penulis menyebutnya Aki Gunung yang hangat dan ramah ini. Tapi, kesan eksklusif saya ketika berbincang dan dekat dengan beliau, bisa saya gambarkan. KH. Fuad Halimi Salim Kaduronyok, yang lebih dekat biasa santri memanggilnya Aki Gunung, merupakan putra orisinil Kaduronyok Pandeglang Banten.
Beliau ialah eksklusif yang jernih. Misal, ketika ditanya mengenai suatu masalah, Aki Gunung akan menawarkan solusi yang jernih dan mudah (sesuai syar’i tentunya). Langsung saja tercap di benak saya, Aki Gunung ini ialah salah satu ulama jernih, cerdas, juga progresif dari kalangan NU tanpa kehilangan jatidirinya sebagai warga Nahdliyin.
Penampilan ia sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak menerka bahwa ia ialah seorang kiai. Di balik kesederhanaan ia tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah ia di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara ia yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau.
Di mata para santrinya, Aki Gunung ialah sosok yang istikomah dan alim. Ia tak hanya pintar mengajar, melainkan menjadi contoh seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah. Demikian pula dalam hal kebersihan yang menciptakan para santrinya betah dan bangga. Makanya, penulis selalu bersasumsi ada 2 hal yang menciptakan para santri betah dan bangga, yaitu tulus dan ngalap berkah. Mendapatkan kebaikan sebab berdekatan dan menimba ilmu dari para ulama dan orang-orang sholeh.
Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Aki Gunung dikenal sebagai kiai khos atau kiai utama. Aki Gunung dianggap mempunyai wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, mempunyai laris atau daya spiritual yang tinggi, bisa mengeluarkan kalimat nasihat atau anjuran moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan-keinginan duniawi. Aki Gunung kerap jadi referensi utama di kalangan Nahdliyin, terutama menyangkut kepentingan publik.
Tasawuf yang dipahami Aki Gunung, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah sebab mengutamakan dhauq (rasa) yang artinya bahwa sufi dan pengamal tarekat dihentikan meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fikih. Bahkan, berdasarkan tasawuf yang dipahami Aki Gunung, ilmu syariah ialah jalan menuju marifat.
Kendati demikian, Aki Gunung bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung-gunung, menyerupai legenda sufi yang sering mampir ke pendengaran kita. Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah SWT. Ia dekat dengan banyak sekali community college, medan kehidupan, mulai dari pertanian hingga kesejahteraan sosial.
Menurut penulis, Aki Gunung ialah sosok ulama yang yatafaqqahu-nya kenceng dan yundziru qaumahum-nya juga kenceng. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan ulama nusantara tulen ini dalam mengintegrasikan semangat Islam dan kebangsaan. Aki gunung telah berhasil merumuskan tiga ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).
Aki Gunung juga ditunjang oleh pemahaman dalam memakai fiqhud dakwah (fiqih berdakwah), yang dibedakan dengan fiqul ahkam (fiqih hukum) dan fiqhul nasihat (fiqih kebijaksanaan). Kaprikornus penulis tersadar bahwa pemahaman dalam memakai agama tidak cukup hanya dengan jenggot, tidak cukup dengan jidat hitam, tidak cukup dengan celana setengah kaki. Di samping melestarikan dan membuatkan pedoman agama Islam melalui metode thariqah. Aki Gunung juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
Berdirinya Pesantren Al Ihya Kaduronyok membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan banyak sekali disiplin ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat bisa merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang berpengaruh melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan thariqah. Para santrinya bercerita wacana keinginan ia selanjutnya, bahwa ilmu yang sudah didapat, tidak hanya disebarkan melalui ceramah oral, tapi hendaknya juga dituliskan untuk jangkauan dan manfaat yang lebih luas.
Ini artinya, ia menyerukan wacana gerakan literasi pesantren. Beliau juga mengingatkan para kiai dan santri untuk memanfaatkan teknologi sosial media dan kebebasan pers sebagai momentum untuk mendakwahkan Islam ramah dan tradisi keberagamaan rahmatan lil alamin yang diajarkan di pesantren. Padahal sejatinya, literasi di dunia pesantren sudah terbangun dalam tradisi kajian yang diajarkan semenjak berabad lampau. Para ulama Indonesia menyerupai Syekh Nawawi, Syekh Ahmad Khatib Sambas, hingga ulama kekinian, banyak mempunyai karya yang menjadi materi kajian di Pesanten.
Pesantren ketika ini seyogyanya harus mengkader santri-santrinya untuk melek media dan memanfaatkannya sebagai wahana berdakwah. Di samping mengajarkan kajian-kajian fikih, tauhid, tasawuf dan kajian khas pesantren.
****
Pukul 06.10 WIB, Ahad (11/02/2018), Aki Gunung telah dipanggil ke hadhirat-Nya dengan jiwa yang tenang, sehabis beberapa usang dalam perawatan. Beliau diberikan usia yang panjang dan berkah.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Selamat jalan Aki Gunung, Maha Guru Spiritual dan Maha Guru Pergerakan!
