PKBNews - KASUS meninggalnya seorang guru akhir dianiaya siswa menerangkan pendidikan akhlaqul karimah atau pendidikan aksara belum berjalan semestinya.
“Mari perkuat pendidikan aksara atau akhlaqul karimah. Dengan begitu, tidak ada lagi murid yang berani menganiaya guru,” kata Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Sabtu (3/2/2018).
Cak Imin mengaku sedih waktu mengetahui seorang guru tewas dianiaya muridnya. Peristiwa tersebut mencoreng dunia pendidikan di Indonesia.
“Turut berduka cita saya sampaikan kepada keluarganya. Mudah-mudahan jalan almarhum dilapangkan Allah," katanya.
Inisiator Nusantara Mengaji yang sekaligus Panglima Santri Nusantara berkata, pemukulan merupakan hal tidak terduga akhir emosi tidak terkendali pelaku.
"Pemukulan itu insidental, bukan direncanakan. Karena emosi tak terkendali dari pelaku. Polisi sudah turun tangan, harus diproses secara hukum, namun dengan treatment sesuai usianya," ujar Cak Imin.
Cak Imin menilai kasus itu menjadi peringatan bagi orang bau tanah yang mempunyai anak ABG menjelang remaja. Anak-anak harus diajarkan pengendalian diri, emosi, dan disiplin.
"Anak harus dilatih jikalau murka jangan berlebihan, sedih jangan berlebihan, bahagia juga jangan berlebihan. Semua secukupnya saja. Supaya stabil emosinya jikalau sudah dewasa," ucap Inisiator Liga Pekerja Indonesia itu.
Orang tua, berdasarkan Cak Imin, berperan lebih banyak dari guru. Berapapun banyaknya waktu di sekolah, tetap lebih usang waktu anak bersama orang bau tanah di rumah.
"Orang bau tanah zaman now harus lebih rajin memberi referensi dan mengingatkan anak. Apalagi jikalau anaknya laki-laki, harus ekstra usahanya. Anak saya wanita semua sih. Kaprikornus ya relatif lebih gampang jikalau dikasih tahu," katanya.
Inisiator Desa Membangun menambahkan, "Insya Allah di pesantren anak kita kondusif dari narkoba, tawuran, kekerasan, pergaulan bebas, hedonisme, dan lainnya,” tandasnya.
