PKB News: Beberapa hari yang lalu, publik dikagetkan dengan info meninggalnya seorang guru pada salah satu Sekolah Menengan Atas di Sampang Madura. Kaget, alasannya guru itu tewas akhir ulah tak bermoral muridnya sendiri.
Miris memang, betapa seorang guru yang mestinya digugu dan ditiru malam menjadi bulan-bulanan pukulan sang murid yang dihujamkan kepadanya. Apalagi masalah itu berawal dari teguran sang guru kepada muridnya yang menciptakan gaduh suasana pembelajaran.
Tak usang berselang, publik kembali dibuat geram akhir ulah seorang murid yang menantang duel gurunya. Kabar yang beredar melalui video dan viral di media umum itu terjadi pada sebuah sekolah yang belakangan diketahui terjadi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif Krenceng, Kecamatan Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah.
Berbeda dengan masalah pertama, masalah kedua ini bermula atas pengaduan masyarakat terkait siswa bersangkutan yang sering mangkir sekolah. Karena tak terima, ketika emosinya memuncak, sang siswa menanggalkan bajunya dan lagsung ajak duel gurunya.
Ditengahgencarnya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan yang dibarengi dengan gelontoran APBN kita untuk sektor pendidikan, ternyata celah masalah model demikian masih saja menganga. Inilah bab dari refleksi atas kedua masalah yang bikin heboh dunia pendidikan kita itu.
Kedua masalah itu tak ayal menciptakan pilu bangsa ini yang sedang tak henti-hentinya menangkis banyak sekali gempuran yang mengancam masa depan generasi muda kita. Mulai dari narkoba, radikalisme, terorisme, dan lainnya. Apapun alasannya, prilaku kekerasan itu tak dibenarkan.
‘Revolusi Mental’ yang digadang-gadang pemerintah Jokowi – JK kolam kena watu sandungan atas masalah itu. Pendidikan abjad di sekolah saja rupanya belum cukup alasannya mesti ditopang oleh pendidikan di luar sekolah baik di rumah melalui orang renta maupun lingkungan.
Tak anggun juga jikalau kita melulu “menghakimi” si murid pada kedua masalah itu. Boleh jadi di sekolah dia diajarkan perilaku hormat dan anti kekerasan tetapi di rumah atau di lingkungan dia selalu melihat praktik kekerasan.
Lebih-lebih di periode digital kini ini, belum dewasa tanpa sekat ruang dan waktu bisa dengan leluasa mengakses visualisasi kekerasan di genggamannya sendiri melalui gadgetnya. Ditambah tayangan televisi yang seringkali jauh dari pesan edukasi.
Diakui atau tidak, kondisi ini sangat berpotensi menciptakan anak menjadi pelaku kekerasan. Atas fakta itu, penulis tak jarang dampingi anak ketika nonton televisi sebagai upaya menutup ruang praktek kekerasan yang merasuki imajinasinya.
Sebagai orang yang pernah alami menjadi tenaga pendidik, penulis rasakan betul dilema di ketika sedang jalani proses mengajar pada siswa. Sebuah teguran saja bisa tersangkut pelanggaran terhadap UU Perlindungan Anak, tidak sedikit guru yang tersangkut dilema aturan meski sekedar memberi hukuman disiplin.
Penanaman pendidikan abjad pada siswa memang tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh keluwesan, keuletan, kesabaran ditambah keikhlasan. Bila aras ini hilang, bersiaplah kita menikmati potret buram pendidikan kita yang terus berulang.
Tabiat Suci Pendidikan
Proses dan suasana pendidikan tentu membawa efek pada perkembangan potensi insani. Potensi insani (human potencial)yang penulis maksud beraneka ragam, diantaranya: kecerdasan (intelligence) dan daya inovasi, pengaruhnya sangat besar dalam memilih kualitas kehidupan seseorang di tengah-tengah masyarakat.
Lebih dari itu, supaya terbentuk individu yang ”structured persons”, yang bisa tampil prima dalam situasi dan kondisi apapun. Hal inilah yang penulis maksud sebagai model pendidikan yang transformatif. Tidak sekedal formalisme, tapi substansial.
Di samping itu, adab mulia atau akal pekerti luhur mesti dijadikan fondasi yang mengacu pada titik keseimbangan interaktif antara dimensi material dan spiritual. Yang secara natural insan diciptakan dengan fitrahnya demikian.
Berawal dari dimensi spiritual yang senantiasa menjadi ruh atas nilai-nilai yang memperlihatkan daya hidup, support motorik secara kolektif secara dinamis dan kemudian bisa membentuk individu-individu berakrakter.
Akhlak (moral) sebagai kata benda berarti berafiliasi dengan prinsip baik dan jelek yang ditarik dari satu cerita, kisah atau pengalaman. Misalnya, moral dari kisah ini yakni bahwa seorang siswa sebaiknya tidak melawan kepada gurunya.
Dengan kata lain adab berarti perangai, tabiat, tingkah laku, adat (kebiasaan). Perangai tadi butuh dilatih supaya menjadi sikap, atau semoga terbiasa siap dan rela berkorban sesuai dengan keyakinan, pendapat atau dogma yang tersembunyi dalam jiwanya, serta sesuai pula dengan apa yang diharapkan.
Proses tadi bisa diwujudkan melalui pendidikan. Di mana pendidikan menjadi perjuangan yang dilakukan secara sadar dalam penciptaan masyarakat yang beradab menurut nilai-nilai agama. Dengan kata lain, agama kemudian tidak lagi hanya di jadikan simbol, tapi benar-benar dipraksiskan.
Atasnya, watak suci pendidikan menjadi alat rekayasa sosial yang bisa memilih perubahan maju mundurnya kehidupan masyarakat kita di masa yang akan datang. Sehingga prilaku KKN, kejahatan, kekerasan, diskriminasi dan lain sebagainya paling tidak bisa dicegah.
Atas dasar itu penulis kira ada tiga hal yang sangat kritis yang akan mempengaruhi keberhasilan perubahan ini, antara lain: Pertama, Perubahan cara pandang (mind-set) dan kesepakatan sumberdaya. Perubahan cara pandang diarahkan dari pendidikan untuk pengembangan sumber daya insan menjadi pendidikan untuk pengembangan insan seutuhnya.
Kedua, kualitas dan penghargaan terhadap guru. Transformasi pendidikan memerlukan investasi besar-besaran dalam meningkatkan mutu para guru, dan derma penghargaan yang pantas bagi para guru. Di samping itu, menghargai kinerja mereka dalam bentuk meningkatkan kesejahteraannya menjadi salah satu indikator penting.
Ketiga, perubahan sistem manajemen. Manajemen pendidikan yang sangat didominasi oleh para birokrat merupakan salah satu kendala besar dalam perubahan. Cengkraman birokrasi yang lebih mengutamakan kepatuhan diatas kreativitas dan prestasi perlu dicairkan dengan meningkatkan tugas masyarakat, pendidik dan orang renta dalam administrasi pendidikan di sekolah-sekolah.
Jiwa Santri
Bersyukur tiada sampai penulis pernah mengalami masa-masa pendidikan di pondok pesantren. Atas pembelajaran yang didapatkan, pesantren memperlihatkan solusi dalam pembentukan abjad santri, termasuk penulis.
Penulis kira, santri tak melulu sebuah kata panggilan yang disematkan kepada orang yang tinggal di pesantren. Bahkan, tak jarang santri diidentikkan dengan sarung, dengan peci, kitab kuning yang menjadi tumpuan pembeajaran dan lainnya.
Lebih dari itu, penulis kira makna santri tidaklah sesempit itu. Santri merupakan abjad menempel kepada seseorang yang mempunyai kesungguhan melaksanakan perubahan dan menebar manfaatbagi dirinya, keluarga, lingkungan dan masyarakat lebih luas.
Diantara abjad khas santri, menempel pada dirinya prilaku yang dibuat oleh para kiayinya, yakni: ta’adhu`(rendah hati), wara’(berhati-hati), akhlaqul kariimah (akhlaq mulia), berjiwa patriot (berani), mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah dan lainnya.
Elemen-elemen itulah yang mengakibatkan santri bisa tampil di masyarakat untuk memperlihatkan solusi konkrit sebagai seorang pemimpin biro perubahan. Karakter ini kontras betul dengan eksklusif H. A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai trah kiayi pendiri NU.
Sebagai inisiator Hari Santri Nasional, dia sadar betul bahwa jiwa seorang santri berperan kunci dalam merebut kemerdekaan negeri ini. Mulai dari kakeknya KH. Bisri Sansyuri, KH. Hasyim Asy’ari (yang kemudian diberi gelar Pahlwan Kemerdekaan Nasional) dan kiayi pejuang NU lainnya.
Tidak berlebihan kiranya jikalau Cak Imin dinobatkan sebagai Panglima Santri, menjadi simbol santri zaman now, dia mempunyai mental baja dalam mengisi kemerdekaan Indonesia sebagai warisan pendahulunya ditengah tantangan yang semakin rumit mulai dari terorisme, narkoba dan perang tak bersudut berbasis kemajuan teknologi.
Sebagai eksklusif berjiwa santri, nampak betul perilaku rendah hati, tidak sombong, tidak besar kepala dan akhlaq mulia lainnya yang dipraktekkan dia dalam kesehariannya. Terlebih jikalau berhadapan dengan para guru, kiayi dan masyayikh.
Tak heran jikalau dia nampak sedih mendapati masalah meninggalnya guru oleh siswa menyerupai yang dibahas diawal tadi. Menurutnya, pengendalian diri yakni pelajaran pokok bagi seorang santri, pelajaran model ini hanya bisa didapat di pondok pesantren.
Pondok pesantren merupakan kawah candradimuka yang menggabungkan pendidikan agama dan pembangunan abjad sehingga masih bisa diandalkan untuk menanggkal anak kita kondusif dari narkoba, tawuran, kekerasan, pergaulan bebas, hedonisme, dan lainnya.
Sebagai politisi santri, dia telah mengambil tugas yang positif dalam melaksanakan perbaikan dan kemajuan negeri ini. Yang tak kalah penting, dia tidak pernah melepas gambaran dirinya sebagai santri dalam luasnya pergaulan dengan siapapun, berlatarbelakang apapun.
Tak berlebihan kiranya jikalau jiwa santri yang menempel pada eksklusif Cak Imin menjadi simbol masyarakat pondok pesantren yang anti kekerasan dan konsisten menebar manfaat bagi semesta alam dan seisinya. Wallahu ‘alam bisshowab
Penulis Usep Saeful Kamal, Tenaga Ahli Anggota FPKB dewan perwakilan rakyat RI, Keluarga Alumni Cipasung
Penulis Usep Saeful Kamal, Tenaga Ahli Anggota FPKB dewan perwakilan rakyat RI, Keluarga Alumni Cipasung
