SERANG – Pada 1957, redaksi media ‘Gelora Massa’ mendengarkan kabar bahwa Presiden Soekarno akan tiba ke Serang, Banten. Rencana kedatang Bung Karno itu disambut awak redaksi dengan memuat artikel yang berisi bahwa masyarakat Banten merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat. Sebelum Bung Karno tiba di Serang, mereka berupaya semoga artikel tersebut bisa terbaca oleh Presiden.
“Koran (tabloid, pen.) yang berisi artikel itu sengaja kami taroh di meja tempat di mana Bung Karno akan berorasi. Maka, dengan sendirinya Bung Karno pun membaca artikel tersebut,” kata Sian Fu, wartawan sekaligus fotografer ‘Gelora Massa’ ketika berbincang dengan Abdul Malik, mantan wartawan yang sekarang jadi akademisi di Universitas Serang Raya (Unsera).
Dalam wawancara yang berlangsung pada 2008 itu, Sian Fu menceritakan bahwa Bung Karno dalam orasinya menyatakan bahwa tidak benar Banten dan masyarakatnya dianaktirikan. “Sebaliknya, kata Bung Karno, pemerintah ingin membuatkan Banten,” ujar Sian Fu yang mempunyai nama samaran Chemmy.
Sian Fu menyebut bahwa pada masa itu telah muncul bibit-bibit harapan masyarakat Banten untuk berpisah dengan Jawa Barat dan membentuk provinsi sendiri. Keinginan tersebut sebab pembangunan di Banten masih jauh tertinggal.
Michael C. William “Banten:Utang Padi Dibayar Padi, Utang Darah Dibayar Darah” dalam buku Audrey Kahin ‘Pergolakan pada Daerah Awal Kemerdekaan’, Jakarta: Graffiti Pers, 1990, menyebutkan bahwa secara keseluruhan Banten semenjak era ke 19 secara irit dan politis memang terpencil. Banten potongan utara yang relatif sudah dibangun semenjak masa Kesultanan sampai berakhirnya masa Kesultanan, tetap tertinggal dibanding potongan lain di Jawa Barat.
Selain duduk masalah infrastruktur jalan, ketertinggalan yang menyolok adalah pada infrastruktur pendidikan. Di Serang memang ada sekolah guru, sekolah kepandaian putri, sekolah teknik, serta 4 sekolah menengah. Hanya satu di antara sekolah menengah itu sekolah negeri. Tiga lainnya sekolah partikelir, yaitu Sekolah Menengan Atas di bawah Krishna Dwipayana, Sekolah Menengah Islam dan Sekolah Mardiyuana. Sayangnya jumlah lulusan Sekolah Rakyat sendiri masih sedikit.
Irvan Sjafari, seorang wartawan dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa pada 1954 saja di Kabupaten Serang lulus 550 murid dan ini tiga kali lipat lulusan pada 1953. Sedangkan yang lulus Sekolah Menengah Pertama hanya 180 orang pada 1954 dan itu naik 25% dari tahun 1953 (Pikiran Rakjat, 19 Agustus 1954). Pada 1955 jumlah lulusan SR di Serang meningkat menjadi 1500 orang. Namun hanya 256 anak yang bisa ditampung di satu-satunya Sekolah Menengah Pertama Negri Serang (Pikiran Rakjat, 3 Juni 1955). Hingga 1955 hanya 113.156 orang yang bisa baca tulis dari 523.744 penduduk di kabupaten itu (Pikiran Rakjat, 3 Agustus 1955).
Infrastruktur kesehatan juga tidak memadai. Rumah Sakit Umum Serang pada 1954 hanya mempunyai 24 kamar dan 225 tempat tidur pasien. Memang jumlah pasien yang dirawat tiap bulannya masih berkisar 150 sampai 200 pasien. Tenaga dokter hanya dua orang, di antaranya dr.Rachteck yang masih berkebangsaan Belanda.
Pada Februari 1957 benih-benih bahwa mereka yakni berbeda dengan bagain lain di Jawa Barat mulai mencuat. Satu delegasi terdiri dari 7 orang campuran dari DPRD Serang-Pandeglang berangkat ke pusat. Delegasi itu diketuai KH. Amin Djasuta didampingi Residen Banten R Achjar Penna pada Jum’at 22 Februari 1957 menemui Sekretaris Jendral Kementerian Dalam negri.
Delegasi ini menyuarakan tuntutan kawasan Banten dan menyuarakan tuntutan biaya sebesar Rp 550.000.000. Mereka mengancam akan menuntut Banten menjadi negara potongan sendiri bukan saja lepas dari Jawa Barat. (Indonesia Raja, 23 Februari 1957).
Dari Utusan Banten ke Gelora Massa
Iwan Subakti, anak dari Sian Fu menceritakan bahwa ayahnya terjun ke dunia jurnalistik berawal dari dialog sejumlah anak muda di Perempatan Pocis, Serang. Para cowok ini kerap ngobrol selepas menonton film di Gedung Sampoerna.
pada tahun 1954 mereka setuju mendirikan penerbit “Rangsang Debu ’45” serta menerbitkan tabloid “Utusan Banten” dengan format buku kecil -sebesar buku tulis- yang terbit sebulan sekali dengan 30 halaman.
Sianfu dan Atja sebagai pendiri, Chutbany sebagai pimpinan redaksi, AS Sumiarsa sebagai redaksi dan sekretaris redaksi dipegang oleh Nani. Peralatan sederhana menyerupai meja tulis, mesin tik dan kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh Atja, sedangkan dana penerbitan dan transportasi disumbang oleh Karso Utomo Kohardjaja (Ko Eng Ke), pedagang tembakau yang juga ayah dari Sian Fu.
Agar gampang diingat, dalam penerbitan mereka selalu memakai nama alias untuk artikel yang ditulisnya. Penulis Utusan Banten dikenal dengan empat serangkai ABCD. A sebagai Andre yakni Atja, B sebagai Basri yakni Chutbany, C sebagai Chemmy yakni Sian Fu dan D sebagai Deddy yang bergotong-royong yakni AS Sumiarsa.
Namun Utusan Banten hanya bertahan enam bulan. Utusan Banten hanya sempat terbit empat kali dalam kurun waktu Januari sampai April 1954. Hanya bisa menerbitkan tapi tak memperhatikan sirkulasi dan pemasaran. Akibatnya, modal perjuangan pemberian almarhum Karso Utomo Kohardjaja pun ludes.
Kesulitan yang dialami pengurus Utusan Banten terpantau oleh H.M. Rafiudin Gogo Sandjarirdja yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Perburuhan Banten. Dengan pemberian tiga motor DKW dari ia karenanya Utusan Banten dilebur kemudian muncul dengan nama baru, Gelora Massa. Penerbitan ini menerima subsidi dari Departemen Penerangan atas acuan dari Gogo Sandjadirdja. Gelora Massa yang terbit setiap hari Jum’at satu ahad sekali, relatif sanggup terbit atau bertahan lebih usang sampai tahun 1959.
