LEBAK – Kantor Bahasa Provinsi Banten telah mendokumentasikan budaya masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak sebab budaya mereka ialah serpihan warisan nenek moyang yang mesti dilestarikan supaya tidak punah.
“Kami tahun kemudian juga telah melaksanakan penelitian dan pengumpulan kosa kata budaya masyarakat Baduy dan istilah-istilah makanan Banten,” kata Nondi Sopandi, staf Kantor Bahasa Provinsi Banten, di Lebak, Rabu (7/2/2018).
Baduy telah menjadi ikon Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten sebab mereka konsisten mempertahankan akhlak budaya leluhurnya.
Di antara kekonsistenan mereka ialah tinggal di permukiman tanah hak ulayat di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, di mana jalan-jalannya tidak beraspal, tanpa jembatan beton, tanpa listrik, tanpa layana kesehatan dan pendidikan modern. Selain itu, di sini juga tidak perabotan rumah dan elektronik.
Warga Baduy Dalam malah terus mempertahankan pakaian putih-putih dengan ikat kepala atau lomar warna putih di Kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikawartana bila berpergian ke mana saja, termasuk keluar daerah.
Mereka juga pantang memakai ganjal kaki ketika bepergian, semuanya harus berjalan kaki. Warga Baduy Dalam dihentikan memakai kendaraan.
Begitu juga pertanian, warga Baduy tidak memakai sawah dan peralatan bercocok tanam, melainkan dengan cara bercocok tanam di ladang, ibarat menanam padi huma, palawija, dan lainnya.
Keunikan mereka mendorong pemerintah Banten melestarikan sastra dan budaya Baduy dengan merevitalisasinya supaya budaya lokal tidak punah.
“Kami juga melaksanakan revitalisasi sastra dan seni angklung buhun Baduy dengan menawarkan pembinaan kepada 100 pelajar SMA/SMK,” kata Nondi.
Tahun ini Nondi dan timnya menggarap dokumentasi dan pengumpulan data kosa kata sunda Baduy dan istilah-istilah kerajaan supaya menjadi arsip nasional demi keberlangsungan bahasa tersebut.
“Dokumentasi dan arsip itu supaya tidak punah bagi generasi selanjutnya,” katanya. “Apakah bahasa itu akan punah, namun bila ada dokumentasi maka tidak punah, termasuk penuturannya.”
