![]() |
| KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) (Foto: Priyambodo) |
JAKARTA - Anugerah penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 yang diterima Budayawan Nasional, KH Ahmad Mustofa Bisri atau dekat disapa Gus Mus menciptakan sejumlah kalangan bangga, termasuk Panglima Santri Nusantara, A Muhaimin Iskandar.
Bahkan, berdasarkan Cak Imin (sapaan dekat A Muhaimin Iskandar), Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga dipastikan turut besar hati dan bersyukur.
“Aku yakin sekali Gusdur niscaya sangat besar hati dan bersyukur alasannya Gusmus @s.kakung mendapat anugerah Yap Thiam Hien Award,” ujar Cak Imin di laman instagram pribadinya @cakimiNOW, Kamis 25 Januari 2018.
“Kira-kira komentar Gusdur begini ; Lha iyo tho.. terbukti kan wong NU ahire dadi rujukan.. Indonesia ini beres kabeh asal wong NU sing mimpin,” sambung Cak Imin.
Cak Imin menjelaskan, ungkapan Gus Dur tersebut telah dilontarkan Gus Dur jauh sebelum ia menjadi Presiden. “Kalimat itu yang selalu diucapkan semenjak sepuluh tahun sebelum dia jadi Presiden... Allohumma irhamhu ...Alfatihah...,” pungkas Cak Imin.
Ya, Gus Mus hingga ketika ini terbukti telah menjadi tumpuan siapapun dalam hal kemanusiaan sesuai dengan dawuh Gus Dur. Karya-karya seninya terbukti memantik keteduhan ditengah ragam duduk kasus kebangsaan yang semakin kompleks.
Dawuhnya menyejukkan, puisinya menenteramkan, dan ceramahnya menambah khidmat persatuan dan kesatuan bangsa. Ia istiqomah perjuangkan kemanusiaan, rajut Indonesia, teduhkan Islam. Tentunya sejarah akan catat namanya.
Selain itu, penghargaan Yap Thien Hien untuk Gus Mus yaitu kali pertama diterima seorang kiai. Gus Mus tercatat sebagai peserta penghargaan Yap Thiam Hien Award yang ke-77. Suatu bukti bahwa keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan yaitu satu nafas.
Siapa Yap Thien Hien?
Intensitas Gus Mus menggalakkan usaha memuliakan insan melalui seni dan budaya mempunyai kesamaan dengan semangat usaha Yap Thiam Hien.
Yap yaitu tokoh Tionghoa yang lahir dan besar di lingkungan perkebunan feodalistis di Aceh. Dari situ ia berjuang mempertahankan diri dari cengkraman feodalisme kapitalis yang hampir tiap hari menghantui dirinya dan keluarganya.
Yap memang tidak menyukai kekuasaan. Dia menganut doktrin Lord Acton, bahwa kekuasaan cenderung korup. “Bilamana kekuasaan merajalela hampir tanpa batas, pada galibnya kepastian aturan akan lenyap dan rasa ketakutan mulai tertanam,” kata Yap.
Yap juga dikenal sebagai pembela Hak Asasi Manusia. Banyak terdakwa yang dibela Yap. Di abad Orde Lama, Yap membela Liem Koe Nio yang dituduh melaksanakan tindak subversif ekonomi alasannya menimbun barang. Liem disinyalir sebagai tokoh Kuomintang, organisasi politik yang ketika itu dibenci pemerintah Soekarno.
Berlanjut di zaman Orde Baru, Yap membela Dr Subandrio yang terlibat G30S/PKI. Kemudian tahun 1967, ia membela Direktur PT Quick yang katanya diperas oleh petugas. Yap pun sempat ditahan beberapa ketika oleh pegawapemerintah karena pembelaan ini.
Ia juga tercatat sebagai pendiri Dewan Kawasan HAM di Asia pada tahun 1980. Pada 1996, ia dan rekannya mendirikan Lembaga Pembela Hak Azasi Manusia (HAM). Bersama Adnan Buyung Nasution, pada tahun 1970 mereka merintis Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Nah, nilai-nilai usaha ‘ala’ Yap ini kemudian terdeteksi Yayasan Yap Thiam Hien. Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis berujar, Gus Mus bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pejuang HAM.
Todung menambahkan, Gus Mus yaitu tokoh yang mempunyai keteguhan dalam membangun moralitas kemanusiaan di tengah bangsa yang beragam, baik agama, budaya, sosial hingga susila istiadat.
"Dalam keadaan di mana keberagaman terancam, politisasi agama dan fundamentalisme menjalar ke seluruh negeri, kehadiran Gus Mus yaitu pengingat bahwa kita yaitu bangsa yang toleran," ujar Todung di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu 24 Januari 2018.
Sumber : RADARBANGSA.COM
