| Hari Santri Nasional |
Sebagai daerah pendidikan agama, Pesantren nampaknya pantas disebut sebagai daerah labolatorium perdamaian. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Ahmad Zayadi menyatakan bahwa pesantren ialah laboratorium perdamaian. Hal itu lantaran Pesantren merupakan daerah untuk menyemai anutan Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam ramah dan moderat (wasathi).
“Pesantren sangat sempurna dijadikan sebagai laboratorium perdamaian,” tegas Ahmad Zayadi dalam keterangan tertulisnya menyerupai dilansir dari nu.or.id, Kamis, 18 Oktober 2018.
Dia memaparkan, setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.
Pertama, prinsip maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak sanggup ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan ialah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.
Kedua, metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, tumpuan dan transfer ilmu eksklusif dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari aneka macam kitab, bahkan hingga kajian lintas mazhab.
Tatkala muncul duduk kasus hukum, para santri memakai metode bahts al-masa’il untuk mencari kekuatan aturan dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk mencar ilmu mendapatkan perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber aturan yang otentik.
Ketiga, para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma akhlak agama dan realitas kebutuhan sosial.
Keempat, pendidikan kemandirian, kolaborasi dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan bersama-sama sesama para pejuang ilmu.
Kelima, lahirnya bermacam-macam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar. Setting kamar kebanyakan pesantren relatif padat. Satu kamar berukuran kecil sanggup ditempati oleh 8 orang lebih. Kondisi ini menciptakan mereka sering menciptakan lembaga kecil untuk membahas hal-hal remeh hingga yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.
Keenam, gerakan komunitas menyerupai kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat kuat pada sikap seseorang, alasannya ialah sanggup mengekspresikan sikap yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.
Ketujuh, penanaman spiritual. Tidak hanya soal aturan (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatun nafs, yaitu proses pencucian hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang higienis dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan perihal intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.
Kedelapan, kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari tugas kalangan pesantren. Sampai hari ini pun akad santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal dogma (cinta tanah air sebagian dari iman).
Kesembilan, merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang aman untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.
Kesembilan poin di atas, berdasarkan Zayadi, menegaskan bahwa pesantren punya modal nyata, yakni sebagai wajah pendidikan karakter, kaderisasi intelektual yang Islami dan nasionalis, dan ruang yang produktif sebagai penanaman generasi yang tangguh, toleran, dan mengedepankan urusan keumatan dan bangsa.
“Tentu saja, sembilan alasan di atas hanya sedikit hal dari sekian banyak kekayaan dan keistimewaan pesantren,” pungkasnya.